Akademis dan Pemuda Harus Siap untuk Bela Negara

**Unhan Gandeng Unswagati Seminar Pertahanan dan Bela Negara

CIREBON.- Kalangan akademisi termasuk mahasiswa dan pemuda harus menjadi elemen di luar militer dengan menumbuhkan kesadaran bela Negara. Hal itu mengemuka dalam Seminar “Pertahanandan Bela Negara” di Auditorium Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) yang menghadirkan narasumber utama Rektor Unswagati Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP, Dosen Senior Universitas Pertahanan (Unhan) Dr Ir Syaiful Anwar, M.Bus., MA dan Dosen Pascasarjana Unswagati Dr Ipik Permana SIP M.Si.

Rektor Unswagati Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP sebagai keynote speech menyampaikan bahwa di era saat ini kesadaran dan kemampuan bela negara bisa diimplementasikan dalam banyak aspek, dari mulai kemampuan menanggulangi bahaya radikalisme, terorisme, narkoba sampai informasi palsu atau hoax yang marak di dunia maya.

“Disini peran akademisi khususnya para mahasiswa begitu teramat strategis. Mereka harus siap untuk terlibat langsung dalam kegiatan bela Negara. Unit Kegiatan Mahasiswa yang sudah siap diantaranya resimen mahasiswa, Mapala, serta seluruh elemen mahasiswa lainnya. Jangan lupa Founding Father kita Bung Karno dengan konsep Tri Saktinya kita harus berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya,” ujarnya.

Berkaitan dengan itu, prof Djohan—panggilan akrab—Rektor Unswagati menegaskan agar seluruh elemen yang ada untuk bersiap melakukan bela Negara. Spirit perjuangan yang telah dicontohkan dalam semangat Sumpah Pemuda 1928,  hingga diraihnya kemerdekaan serta upaya mempertahankan kemerdekaan 4 Nopember 1949. “Generasi muda terdidik harus siap menjalankan bela Negara,” paparnya.

Akademisi Unhan Dr Ir Syaiful Anwar, M.Bus., MA memaparkan tentang “Pembinaan Kesadaran Bela Negara dalam Mendukung Pembangunan Sistem Pertahanan Negara.” Dr Syaidul mengemukakan bahwa Negara yang secara konseptual untuk kebahagiaan dan kemakmuran rakyatnya harus melindungi warganya, terpeliharanya keadilan dan kesejahteraan serta menjamin kebebasan.

“Itu  sejalan dengan pembukaan UUD 1945 yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,  mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Dalam konteks pertahanan Indonesia ialah kedaultana Negara, wilayah Negara dan bangsa,” jelasnya.

Selain itu, Dr Syaiful juga meminta agar pemerintah Indonesia mewaspadai adanya agenda tersembunyi pemerintah Tiongkok, dibalik kerja sama ekonomi yang belakangan ini semakin menguat. Kekhawatiran rakyat dan bangsa Indonesia akan agresivitas negeri tirai bambu untuk berinvestasi di Indonesia, bukan tanpa alasan.

Dijelaskan dia, saat ini di dunia internasional, kekuatan ekonomi kerap dimanfaatkan sebagai instrumen negara untuk menekan negara lain. “Mekanisme tekanan negara lain di dunia internasional, menggunakan instrumen diplomasi, ekonomi dan militer. Tekanan dilakukan secara bertahap, mulai dari yang lunak hingga cara yang paling keras,” paparnya.

Ditambahkan Direktur Kerja Sama Internasional Kementrian Pertahanan, dari sejumlah negara yang saat ini kecenderungan, anggaran pertahanannya turun, negeri Tiongkok malah anggaran pertahanannya naik. Negara adi daya Amerika Serikat, yang anggaran pertahanannya tahun 2014 sebesar 624.960 juta dolar AS, turun menjadi 595.330 juta dolar AS. Anggaran pertahanan negara AS sebesar itu setara dengan 80 kali lipat nilai APBN Indonesia. Sementara katanya, anggaran pertahanan negara kita hanya Rp 90 triliun, yang disebut-sebut anggaran paling besar. “Meski anggaran pertahanan sebesar Rp 90 triliun disebut paling besar, ternyata 60 persennya untuk membayar gaji tentara,” katanya.

Sedangkan Dr Ipik Permana yang membawakan materi tentang “Menangkal Paham Radikalisme dengan Menumbuhkembangkan Pembangunan Karakter Mahasiswa sebagai Generasi Muda Bangsa” memaparkan factor-faktor penyebab radikalisme. Antara lai, factor domestic seperti kemiskinan, ketidakadilan dan kekecewaan kepada pemerintah, kedua factor internasional seperti ketidakadilan global, arogansi politik luar negeri dan imperialism dan ketiga factor cultural berupa pemahaman sempit tentang agama dan pembelokan keyakinan serta pemahaman agama.

“Mahasiswa dapat memiliki potensi yang memiliki idealism dan daya kritis, memiliki keberanian mengambil risiko, sikap kemandirian dan disiplin, patriotism dan nasionalisme serta sikap kstaria. Dengan potensi itu pembangunan karakter di kalangan mahasiswa dan generasi muda untuk penguatan kebangsaan sangatlah penting untuk meningkatkan karakter dan jati diri,” paparnya. (mj)